- Japmat
japmat berguna sebagai penyaring kotoran2 kasar dan juga buat menahan dan meratakan penyebaran aliran airnya sehingga tidak terlalu terfokus di satu titik aja. - Kapas (Filter Mekanik)
kapas merupakan media yg cukup / sangat penting karena bisa menyaring kotoran kasar n halus (tergantung kualitas kapasnya)..
pengunaan kapas disarankan hanya 1x pakai dan dibuang. - Filter Biologis (sponge, ceramic ring , bioball, japmat , gromax dll)
filter biologis merupakan bagian yg sangat penting karena berfungsi mengubah zat2 yg berbahaya menjadi zat lain yg tidak begitu berbahaya..
karena itu porsi filter biologis harus memadai supaya penyaringannya lebih maksimal (disarankan 30% dari total volume aquarium)..
tapi bagi yg mempunyai kapasitas filter yg tidak terlalu besar bisa diakali dengan menggunakan media filter biologis yg berkualitas tinggi..
tapi tentu saja investasi awalnya juga akan jauh lebih tinggi..
filter biologis akan berfungsi sempurna apabila telah "matang"..
hal ini bisa dilihat dari air yg semakin jernih..
normalnya akan "matang" setelah 2-4 minggu setelah setup awal..
media ini hampir tidak perlu diganti dan juga jangan dibersihkan mengunakan air bersih, cukup sedikit diobok2 dengan mengunakan air aquariumnya supaya bakteri2 yg berguna tidak mati. - Filter Kimiawi (Amonia Remover , carbon ).
filter kimiawifungsinya menyerap zat2 beracun / tidak beracun yg ada diair..
jadi media ini bisa dipakai dan bisa juga tidak dipakai tergantung keperluannya..
misalnya selama pengobatan sangat tidak disarankan dipakai..
tetapi setelah pengobatan boleh dipakai buat menghilangkan sisa2 obat yg dipakai supaya kualitas airnya menjadi normal kembali..
filter kimia ini mempunyai masa pakai yaitu sekitar 2-6 bulan tergantung banyaknya media yg dipakai, sehingga sangat dianjurkan untuk rutin diganti (apabila ingin menggunakan media filter kimiawi). - Optional (kalo tempatnya memadai)
letakkan kapas dengan kepadatan tinggi di posisi terakhir sebelum air masuk ke aquarium buat menyaring kotoran2 halus yg telah melewati berbagai proses diatas sehingga mendapatkan air yg benar2 bersih dari serbuk2 halus yg membuat keruh..
Jadi secara garis besar..
Sponge --> Kapas --> Filter Biologis --> Filter Kimiawi --> Optional..
Jumat, 19 Oktober 2012
Urutan Pemakaian Media Filter
Memilih Pompa Air
Pemilihan pompa air ( water pump ) sangat berpengaruh dalam sistim rancang bangun suatu kolam ikan maupun akuarium. Pemilihan pompa air ( water pump ) harus sesuai dengan rancang bangun serta beberapa pertimbangan lain misalkan dari segi managemen biaya.
Yang harus menjadi pedoman kita dalam menentukan
pilihan pompa air ( water pump ) adalah kemampuan pompa untuk dapat
mengatur air agar dapat melewati sistim filtrasi yang kita rancang
sesering mungkin, semakin sering air “diputar” melalui sistim filtrasi
akan semakin baik, namun yang juga harus menjadi pertimbangan adalah
efek pengaruh kekuatan pompa air ( water pump ) terhadap penghuni kolam
itu sendiri.
Dari pertimbangan tersebut di atas pilihan pompa kolam yang ideal adalah pilihan yang paling baik.
Seperti apa pompa air ( water pump ) yang ideal ? Mungkin itu yang sekarang menjadi pertanyaan.
Untuk menentukan pompa air ( water pump ) yang ideal banyak factor yang mempengaruhi dan menentukan diantaranya yang paling berpengaruh adalah volume kolam ikan / akuarium dan sistim & model aliran atau jalur air kolam / akuarium itu sendiri.
Pompa ( water pump ) yang ideal berdasarkan
perhitungan volume kolam ikan / akuarium adalah salah satu factor yang
paling mudah untuk di perhitungkan.
Pompa yang ideal harus mempunyai kapasitas untuk
dapat memutar air ke sistim filtrasi satu kali dalam waktu satu jam
sekali. Dan hal itu dapat kita perhitungkan dengan kapasitas pompa yang
harus dapat menguras total air kolam ikan / akuariun dalam waktu satu jam.
Perhitungan berdasarkan rancang bangun kolam ikan
/ akuarium itu yang sering kali menjadi handicap tersendiri dikarenakan
banyaknya factor yang berpengaruh didalamnya.
Banyak sekali factor – factor tersebut diantaranya
adalah ketinggian out put pompa air besarnya pipa /
selang yang digunakan, banyaknya sudut yang dilalui dari in put awal pompa air ( water pump ) ke out put akhir saluran ditribusi pompa air ( water pump ), yang seringkali dilupakan juga adalah konektor ( penyambung ) di dalam sistim distribusi air itu sendiri yang sangat berpengaruh terhadap debit air.
Bagai mana mengetahui kapasitas suatu pompa air
Cara yang paling mudah dengan melihat kapasitas yang terdapat pada produk pompa air
( water pump ) itu sendiri. Hampir setiap produk pompa air ( water pump
) yang tersedia dipasaran dari berbagai merk yang tersedia selalu
mencantumkan kapasitas pompa air ( water pump ) tersebut.
Sering kali yang tercantum adalah volume kapasitas maksimal , ketinggian maksimal dan daya listrik yang digunakan.
Dari keterangan yang tercantum dalam spesifikasi produk tersebut kita dapat menentukan yang ideal hanya berdasarkan kapasitas volume kolam ikan dan akuarium, jadi factor lain yang berpengaruh tidak diperhitungkan.
Bagaimana memperhitungkan faktor – faktor lain?
Untuk perhitungan untuk fakor – faktor lain memerlukan suatu kemampuan
lain yang bersifat teknis dan matematis yang sangat rumit untuk
dimengerti tentu hal ini tidak berlaku untuk para expert dan ahli
fisika yang telah mempunyai pengetahuan yang mumpuni.
KAPASITAS YANG TERTERA DI SPESIFIKASI PRODUK SALAH ?
Sering kali yang banyak beredar di masyarakat ( bahkan oleh perancang & pembuat kolam senior ) adalah kapasitas pompa berbeda atau tidak sama dengan yang tercantum dalam spesifikasi produk.
Yang beredar di masyarakat bahwa kapasitas pompa hanya 85 % dari yang tertera di spesifikasi mereka.
Apakah hal tersebut benar ?
Dalam menentukan benar tidaknya hal tersebut kita harus melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Dari produsen sudut pandang produsen spesifikasi
yang tercantum atau yang mereka cantum kan berdasarkan perhitungan
teknis mereka dalam memperhitungkan kapasitas pompa itu sendiri.
Dalam hal ini penulis sendiri mempercayai kapasitas pompa tersebut
adalah sepenuhnya benar dengan toleransi beberapa persen tentunya,
walupun memang ada produsen yang “ nakal “ dengan bermain – main dengan
spesifikasi mereka.
Dari sudat pandang pengguna adalah kenyataan pada saat menggunakan produk pompa air ( water pump ), yang kalau penulis anggap hanyalah kesalah pahaman belaka.
Yang terlupakan
Yang banyak dilupakan adalah pemahaman spesifikasi produk yang hanya sekilas saja tampa pemahaman secara mendalam. Seharusnya dalam mempertimbangkan pemilihan pompa adalah spesifikasi secara menyeluruh. Bukan berdasarkan pada spesifikasi singkat produk
pompa air ( water pump ), yang hanya mencantumkan ketinggian maksimal
(H.max ), Volume maksimal ( max. L/H ), daya listrik (watt ), dan
beberapa hal lain.
Dan hal yang sering kita lewatkan adalah
perhitungan antara volume debit air dengan perhitungan ketinggian pada
spesifikasi pompa.
Yang dimaksud dengan Volume air maksimal pada
spesifikasi pompa adalah Volume air air maksimal pada ketinggian
tertentu ( pada umumnya pada 0 meter ), sehingga apabila posisi output
pompa yang kita pakai lebih tinggi dari kedudukan pompa air, debit air yang dikeluarkan oleh pompa otomatis akan berkurang tergantung tinggi letak out put nya.
Penggunaan Garam pada Pengobatan&Karantina Ikan
Penggunaan garam pada pengobatan ikan sakit dan pada proses
karantina ikan koi baru,sudah menjadi hal yang lumrah dikalangan
hobies.Dan garam sudah dianggap sebagai " obat dewa " yang bisa
menyembuhkan segala penyakit dan obat panjang umur. Tidak dipungkiri
memang demikianlah adanya,namun yang menjadi pertanyaan apakah benar
semua menjadi selesai,,,,?????
Penyebab Penyakit ikan dapat di kelompokkan menjadi tiga golongan, yakni parasit, bakteri , virus dan racun. Apakah semua penyebab penyakit ini semua dapat dibasmi dengan garam ? Jawabannya pun dapat juga kita kelompokkan menjadi beberapa kelompok jawaban,
seandainya saja kita anggap atau kita asumsikan garam dapat mengatasi, apakah urusan / masalah selesai ??? mungkin masalah sakit / penyakit dapat selesai ( misalkan kita anggap / amsumsikan saja selesai ), namun masalah lainnya sudah menanti tinggal menunggu waktu.Masalah apa itu???
pada proses karantina ikan baru atau pada proses karantina sakit pada kolam / bak karantina dengan penggunaan garam sebagai treatment bertujuan untuk membuat air memiliki kadar garam tertentu ( meningkatkan kadar salinitas ) dengan tujuan untuk membasmi sumber penyakit, namun seperti telah di jelaskan semua diatas tidaklah bisa demikian adanya. Masalah - masalah berikutnya sudah menanti kita, antara lain :
Tinggal menunggu waktu sumber penyakit akan mencul kembali, seperti yang telah disebutkan sebelumnya garam yang sifatnya hanya men nonaktifkan, jadi tujuan karantina untuk mensterilkan sumber penyakit menjadi gagal, dalam artian proses karantina gagal.
pada saat sumber penyakit aktif kembali, cukup membahayakan penghuni kolam / akuarium lama.
Setelah proses karantina selesai tentu ikan akan di kembalikan pada kolam / akuarium, fakta yang ada terjadi perbedaan tingkat salinitas yang tinggi antara tempat karantina dan kolam / akuarium sehingga rawan menimbulkan stress terhadap ikan sehingga rawan timbul masalah lain, misalkan keindahan pada ikan hias atau produktivitas pada ikan konsumsi, ikan melompat keluar dll sehingga menyebabkan kerugian.
terutama pada ikan yang rentan stress ( seperti pada ikan koi ), dapat mengakibatkan trauma yang dapat menyebabkan perubahan pada kualitas warna dan atau pola warna, terutama pada jenis doitsu dan hikari.
Bagaimana dengan pengobatan pada wadah utama ( kolam, akuarium , empang,dan lainnya ) ?
sering kali kita sering mendengar istilah " bom garam " ( tindakan memberikan garam dalam jumlah tertentu dalam cukup banyak dengan tujuan membuat kondisi salinitas tertentu ), apa dampak negatifnya ?
Selain hal - hal yang sudah di sebutkan pada proses karantina, yang cukup membahayakan adalah mengukur tingkat salinitas pada kolam, terutama pada kolam outdoor, seiring dengan terjadinya penguapan kadar salinitas akan merangkak naik juga.Pada kondisi nilai tertentu kadar salinitas melebihi batas ketahanan maksimal akan terjadi kematian masal,terutama bagi yang tidak memiliki alat ukur parameter air hal ini cukup merepotkan.
pada saat kondisi salinitas belum mencapai titik maksimal ketahanan, apabila ada penambahan penghuni baru, akan menjadi masalah tersendiri pada pendatang baru tersebut, karena perbedaan konsisi salinitas yang besar dari tempat asalnya, walau tidak masalah pada penghuni lama yang sudah dapat menyesuaikan diri ( adaptasi ) dengan kondisi yang ada.
seringkali yang kita abaikan adalah dampak samping dari tindakan tersebut adalah pengaruhnya terhadap peralatan dan perlengkapan kolam yang bisa saja hanya tahan terhadap kondisi salinitas tertentu, atau dapat menurunkan kinerja dan usia pakai peralatan tersebut.
penggunaan garam haruslah di gunakan secara bijak, misalkan saja untuk pertolongan pertama pada saat persedian obat ikan kita sedang kosong, itupun memerlukan penyesuaian pada saat pemakaian obat ataupun penyesuaian air.
Dan seringkali kita hanya menghitung dari segi biaya jangka pendek yang memang lebih murah namun pada perhitungan jangka panjang biaya yang di timbulkan justru lebih besar. Penggunaan obat - obatan ikan lebih efektif karena memang telah dirancang khusus untuk menyelesaikan masalah - masalah tersebut dengan menghilangkan dampak - dampak negatifnya. Pada Akhirnya penggunaan garam ataupun obat ikan, berpulang kepada pemikiran individu masing - masing, dengan sudut pandang yang berbeda - beda pula, jangka pendek atau jangka panjang, sekedar murah atau efisiensi dan efektivitas.
by - 3asper
Penyebab Penyakit ikan dapat di kelompokkan menjadi tiga golongan, yakni parasit, bakteri , virus dan racun. Apakah semua penyebab penyakit ini semua dapat dibasmi dengan garam ? Jawabannya pun dapat juga kita kelompokkan menjadi beberapa kelompok jawaban,
- YA, untuk sebagian parasit, namun tidak untuk untuk jenis bakteri & virus tertentu ( misalkan KVH )
- Ya, untuk sebagian bakteri & sebagian kecil virus, namun tidak membasmi hanya meredam ( menurunkan kinerja / me nonaktifkan )
- TIDAK, karena sifatnya hanya "mentidurkan / me nonaktifkan ", tinggal menunggu waktu kapan akan muncul kembali.
- TIDAK, tiap jenis sumber penyakit mempunyai ketahanan yang berbeda terhadap nilai salinitas tertentu.
- YA, pada kadar salinitas extrem ( sangat tinggi ), apa ikan yang di karantina juga tidak ikut " ter-basmi "
seandainya saja kita anggap atau kita asumsikan garam dapat mengatasi, apakah urusan / masalah selesai ??? mungkin masalah sakit / penyakit dapat selesai ( misalkan kita anggap / amsumsikan saja selesai ), namun masalah lainnya sudah menanti tinggal menunggu waktu.Masalah apa itu???
pada proses karantina ikan baru atau pada proses karantina sakit pada kolam / bak karantina dengan penggunaan garam sebagai treatment bertujuan untuk membuat air memiliki kadar garam tertentu ( meningkatkan kadar salinitas ) dengan tujuan untuk membasmi sumber penyakit, namun seperti telah di jelaskan semua diatas tidaklah bisa demikian adanya. Masalah - masalah berikutnya sudah menanti kita, antara lain :
Tinggal menunggu waktu sumber penyakit akan mencul kembali, seperti yang telah disebutkan sebelumnya garam yang sifatnya hanya men nonaktifkan, jadi tujuan karantina untuk mensterilkan sumber penyakit menjadi gagal, dalam artian proses karantina gagal.
pada saat sumber penyakit aktif kembali, cukup membahayakan penghuni kolam / akuarium lama.
Setelah proses karantina selesai tentu ikan akan di kembalikan pada kolam / akuarium, fakta yang ada terjadi perbedaan tingkat salinitas yang tinggi antara tempat karantina dan kolam / akuarium sehingga rawan menimbulkan stress terhadap ikan sehingga rawan timbul masalah lain, misalkan keindahan pada ikan hias atau produktivitas pada ikan konsumsi, ikan melompat keluar dll sehingga menyebabkan kerugian.
terutama pada ikan yang rentan stress ( seperti pada ikan koi ), dapat mengakibatkan trauma yang dapat menyebabkan perubahan pada kualitas warna dan atau pola warna, terutama pada jenis doitsu dan hikari.
Bagaimana dengan pengobatan pada wadah utama ( kolam, akuarium , empang,dan lainnya ) ?
sering kali kita sering mendengar istilah " bom garam " ( tindakan memberikan garam dalam jumlah tertentu dalam cukup banyak dengan tujuan membuat kondisi salinitas tertentu ), apa dampak negatifnya ?
Selain hal - hal yang sudah di sebutkan pada proses karantina, yang cukup membahayakan adalah mengukur tingkat salinitas pada kolam, terutama pada kolam outdoor, seiring dengan terjadinya penguapan kadar salinitas akan merangkak naik juga.Pada kondisi nilai tertentu kadar salinitas melebihi batas ketahanan maksimal akan terjadi kematian masal,terutama bagi yang tidak memiliki alat ukur parameter air hal ini cukup merepotkan.
pada saat kondisi salinitas belum mencapai titik maksimal ketahanan, apabila ada penambahan penghuni baru, akan menjadi masalah tersendiri pada pendatang baru tersebut, karena perbedaan konsisi salinitas yang besar dari tempat asalnya, walau tidak masalah pada penghuni lama yang sudah dapat menyesuaikan diri ( adaptasi ) dengan kondisi yang ada.
seringkali yang kita abaikan adalah dampak samping dari tindakan tersebut adalah pengaruhnya terhadap peralatan dan perlengkapan kolam yang bisa saja hanya tahan terhadap kondisi salinitas tertentu, atau dapat menurunkan kinerja dan usia pakai peralatan tersebut.
penggunaan garam haruslah di gunakan secara bijak, misalkan saja untuk pertolongan pertama pada saat persedian obat ikan kita sedang kosong, itupun memerlukan penyesuaian pada saat pemakaian obat ataupun penyesuaian air.
Dan seringkali kita hanya menghitung dari segi biaya jangka pendek yang memang lebih murah namun pada perhitungan jangka panjang biaya yang di timbulkan justru lebih besar. Penggunaan obat - obatan ikan lebih efektif karena memang telah dirancang khusus untuk menyelesaikan masalah - masalah tersebut dengan menghilangkan dampak - dampak negatifnya. Pada Akhirnya penggunaan garam ataupun obat ikan, berpulang kepada pemikiran individu masing - masing, dengan sudut pandang yang berbeda - beda pula, jangka pendek atau jangka panjang, sekedar murah atau efisiensi dan efektivitas.
by - 3asper
Jumat, 21 September 2012
Pentingnya Co2 bagi Aquascape
Co2 dan Tanaman Air
Sering muncul pertanyaan
terutama dari hobiis tanaman air (aquscaper) pemula mengenai gas CO2
yang berbunyi: "Apakah CO2 diperlukan dalam memelihara tanaman
air".
Bila pertanyaan yang
muncul seperti itu, maka jawabannya adalah "YA !".
Mengapa?.
Karena semua tanaman,
termasuk tanaman air didalamnya, memerlukan CO2 untuk berfotosintetis
dalam rangka membentuk karbohidrat sebagai bagian dari tubuhnya.
Namun bila pertanyaannya
adalah : "Apakah CO2 perlu ditambahkan kedalam air akuarium
tanaman?". Jawabannya boleh YA atau TIDAK.
Baiklah agar dapat
memutuskan dengan mudah apakah penambahan CO2 perlu dilakukan atau
tidak, akan didiskusikan apa dan bagaimana CO2 dalam kaitannya dengan
tanaman air.
Sumber Co2
Pernahkan berpikir dari mana
tanaman air di alam bisa tumbuh dan bertahan hidup. Padahal
tampaknya seolah-olah tidak ada CO2 yang ditambahkan kedalam air
tersebut, sebagaimana sebagian para hobiis tanaman air memberikannya
secara artificial. Apabila kita cermati sungai atau danau, ternyata
kandungan CO2 didalamnya lebih dari hanya sekedar untuk memenuhi
reaksi keseimbagan antara air dengan udara. Dengan kata lain, kadar
CO2 yang dikandungnya lebih banyak dari jumlah yang diperlukan untuk
reaksi keseimbangan.
Darimanakah asal dari
kelebihan CO2 tersebut?. Kelebihan CO2 ini ternyata berasal dari
proses dekomposisi bahan organik, terutama yang terjadi pada lantai
danau atau sungai. Proses dekomposisi tersebut terjadi dengan bantuan
bakteri heterotrofik yang menghasilkan CO2 dan methan. Jumlah CO2 yang
dilepaskan oleh proses dekomposisi bahan organik sangat ditentukan
oleh jenis bahan organiknya. Beberapa penelitian membuktikan bahwa
jenis bahan organik yang berbeda menghasilkan jumlah CO2 yang berbeda
pula dalam proses dekomposinya pada endapan sungai atau danau.
Bahan
organik yang berasal dari tanaman air diketahui akan menghasilkan
jumlah CO2 lebih banyak dibandingkan dengan bahan organik yang
berasal dari tanaman darat. Hasil analisis kimiawi terhadap kedua
kelompok tanaman tersebut juga menyatakan bahwa tanaman air segar
mempunyai kadar nutrien yang lebih banyak dibandingkan dengan daun
tanaman darat. Bakteri pada umumnya akan lebih aktif pada bahan-bahan
organik yang kaya nutrien sehingga CO2 yang dihasilkan akan lebih
banyak. Kandungan CO2 dapat juga lebih banyak terutama pada perairan
yang mengandung Karbon Organik Terlarut (DOC) tinggi. Karbon Organik
Terlarut pada umumnya berada dalam proses pembusukan sehingga dapat
menjadi sumber CO2 yang potensial.Air yang berada dalam proses
keseimbangan dengan udara pada umumnya hanya mengandung 0.5 ppm CO2.
Sedangkan tanaman air banyak yang memerlukan CO2 lebih banyak dari
jumlah tersebut. Oleh karena itu, tanaman air bisa diduga tidak akan
bertahan hidup di alam bila tidak mendapatkan tambahan CO2 yang
berasal dari proses dekomposisi bahan organik, kecuali tanaman air
yang mampu mendapatkan karbon dari bahan selain CO2.
Uraian diatas
setidaknya akan memberikan gambaran bagaimana kelak memanipulasi
kandungan CO2 dalam akuarium agar dapat memenuhi kebutuhan tanaman
air yang dipelihara didalamnya. Manipulasi tentunya tidak hanya
terbatas pada pemenuhan CO2 tapi juga pada strategi pemilihan tanaman
dan kepadatan optimal yang dikehendaki agar terjadi keseimbangan
yang baik antara suplai dan keperluan CO2 pada ekosistem akuarium.
Kadar CO2 dalam Akuarium. Berdasarkan uraian diatas mestinya bisa
dibangkitkan pertanyaan bagaimana sumber CO2 dalam suatu lingkungan
akuarium. CO2 dalam suatu akuarium tanaman melulu berasal dari proses
dekomposisi sisa pakan ikan, kotoran, dan bahan organik pada
substrat, juga berasal dari proses metobalisme, dalam hal ini adalah
proses respirasi ikan dan hewan akuatik lainnya.
Apakah jumlahnya akan
mencukupi?. Lagi-lagi hal ini akan tergantung pada strategi hobiis
dalam menyiasati supply dan demand terhadap CO2. Hal ini bisa menjadi
"seni" tersendiri dalam melakukan kegiatan aquascaping
dibandingkan dengan menggantungkan diri pada suplay gas CO2. Seni ini
bisa diperkaya dengan pengetahuan mengenai strategi tanaman air
dalam mendapatkan karbon © selain melalui CO2. Dengan demikian
aquascaper masih akan dapat menikmati tanaman airnya pada lingkungan
rendah CO2 dengan memilih tanaman-tanaman air yang mampu menyerap
karbon dari bentuk selain CO2. Apabila CO2 dalam akuarium hanya
disandarkan pada proses alamiah melalui proses dekomposisi, maka
perlu dilakukan tindakan "pengawetan" untuk mencegah
hilangnya CO2 dari akuarium.
Seperti diketahui CO2 adalah gas, oleh
karena itu ia bisa hilang melalui segala tindakan yang menyebabkan
terjadinya peningkatan percampuran air dengan udara. Hal ini bisa
terjadi misalnya melalui goncangan permukaan air, penggunaan
sprayer air, batu aerator, atau penggunaan filter wet and dry. Tidak
berarti bahwa harus tidak ada gerakan sama sekali dalam akurium
tanaman, tapi harus diatur sedemikian rupa agar gerakan air yang
diperlukan untuk menyebarkan dan mengantarkan hara ke tanaman dan
penyebaran panas serta oksigen tidak sampai menyebabkan CO2 hilang ke
udara. Perlu diingat bahwa tanaman air di habitat aslinya sudah
terbiasa dan beradaptasi dengan lingkungan rendah CO2 atau dengan
kadar CO2 yang berfluktuasi. Banyak jenis tanaman air yang telah
mengembangkan mekanisme pertahanan terhadap kondisi tersebut dan
memiliki strategi alamiah untuk meningkatkan penyerapan CO2 dari air
atau mengawetan CO2 yang telah mereka dapatkan sebelumnya. Kemampuan
demikian tentu saja akan tetap mereka bawa kedalam lingkungan
akuarium. Oleh karena itu meskipun hobiis bisa saja meningkatkan
pertumbuhan mereka secara dramatis dengan pemberian tambahan gas CO2,
tidak ada salahnya dicoba membangkitkan kemampuan alamiah mereka agar
bisa lebih memahami bagaimana ibu alam telah membesarkan mereka
dilingkungannya.
Pada umumnya tanaman air dalam akuarium akan tumbuh
lebih baik dengan menggunakan tambahan CO2, hal ini bisa terjadi
karena CO2 biasanya menjadi faktor pembatas pada lingkungan akuarium
yang cenderung lebih kaya unsur hara seperti nitrogen dan fosfor.
Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa penambahan CO2 mau
tidak mau akan menimbulkan efek domino pada proses lainnya, seperti
peningkatan kebutuhan akan unsur hara tambahan, kegiatan pemangkasan
yang meningkat akibat pertumbuhan tanaman yang cepat, keseimbangan
kimiawi air yang perlu dimonitor dengan ketat, seperti pH dan KH,
untuk memastikan bahwa buffer alkalinitas air tetap berfungsi dengan
baik. Over dosis CO2 sering pula dilaporkan terjadi pada proses
penambahan CO2 terutama pada malam hari. Selain itu diketahui dapat
terjadi efek jangka panjang terhadap substrat akuarium tanaman
sebagai akibat penambahan CO2 yang menyebabkan akuarium tanaman gagal
setelah satu atau dua tahun.
Walau bagaimanapun pilihan untuk
menggunakan tambahan CO2 atau tidak sepenuhnya tergantung pada
aquascaper itu sendiri. Tidak heran kalau kemudian dilingkungan
aquascaping terdapat 2 kubu hobiis, yaitu kubu yang berkiblat pada
proses alamiah dan kubu yang berkiblat pada teknologi (injeksi CO2
dengan peralatan pendukungnya)
Bagi mereka yang tidak ingin
berpikir "njlimet" pilihan pemberian tambahan CO2 bisa
menjadi pilihan terbaik, sedangkan bagi mereka yang berbekal
pengetahuan kebumian cukup pilihan dengan pendekatan alamiah bisa
merupakan pilihan yang sangat menyenangkan.
Semoga tulisan ringkas
ini bisa menjadi pengantar bagi anda bagaimana menentukansikap
anda dalam beraquascaping.
disadur dari H.M.Naro Tri Buwono, Amd.Pi, SAB, MAB
Red Cherry Shrimp Hatching
Peter Maquire dari London cukup baik untuk berbagi foto-foto dengan kami. Dia berhasil menangkap salah satu perilaku yang paling sukar difoto dari Hobby Aquarium Air Tawar ini. Dalam hal ini ada menetasnya telur Udang Red Cherry. Melihat hal ini secara pribadi sangat jarang. Menangkap foto udang dan foto shrimplet / baby shrimp sudah sangat banyak yang mengabadikan tetapi foto proses menetasnya telur udang jarang bisa diabadikan dan ini tentunya ini terjadi dalam hitungan detik.
Foto Pertama : Di sini Anda dapat melihat telur pertama kali muncul dengan mata mulai bermunculan. Telur yang dilepaskan dari induk di ujung ekor. Entah bagaimana induk betina tahu bahwa telur akan menetas dan induk udang akan benar-benar "menendang keluar" telur-telur itu / hatching
Foto Pertama
Foto Pertama (Fokus): Bayi Udang Muncul
Foto Kedua : Baby Shrimp tersebut kemudian dilepaskan dari induk. Anda masih dapat melihat kuning telur masih menempel pada udang tersebut.
Foto Kedua
Foto Kedua (fokus): Ekor sudah terlihat
Foto Ketiga
Foto Ke empat: Akhirnya bayi udang sepenuhnya muncul. Perhatikan kuning telur sudah benar-benar hilang. Satu hal yang menjadi perhatian adalah mata si bayi belum sempurna dan mungkin bayi udang yang baru lahir tidak dapat melihat untuk jangka waktu tertentu. Akan sangat menarik untuk di dokumentasikan siklus perkembangan dari bayi udang hingga menjadi udang dewasa.
Foto Keempat
Foto Keempat: Anak Udang sudah terlihat jelas
Disadur dari : www.planetinverts.com
Kamis, 20 September 2012
Crystal Red Shrimp Grading Guide
Overview
The grading of the Crystal Red Shrimp has sometimes created more confusion than concrete answers. Not only are there many different grades but there are also several different color patterns, features, terminologies and other factors which can dictate one grade from the next. Being well educated with the grading of the Crystal Red Shrimp is very important if you decide to acquire, keep and breed this species.
There are numerous factors which can dictate the grade of a Crystal Red Shrimp. One of the most important factors is the intensity of both the white and red coloration on the specimen. If the white coloration is not full and shows signs of transparency then this can downgrade a specimen. When obtaining Crystal Red Shrimp from another breeder it can sometimes be common for a specimen to lose its fully opaque white coloration when newly arrived and also if it is an older specimen. It is recommended to purchase non-adult Crystal Red Shrimp if you do not want to risk potential color loss in adults after shipping. Adult Crystal Red Shrimp can be very picky when being introduced to a new environment.
Color patterns are also a very important factor when grading a Crystal Red Shrimp. Patterns like Hinomaru, Tiger Tooth, No-Entry Hinomaru, Mosura and more can dictate one grade from the next. At the bottom of the page is a guide to the common features/terminologies which are associated with certain grades. It is highly recommended that you are well educated with the grading terminologies of Crystal Red Shrimp if you decide to keep this species.
Please note that there of course has not been an "official" Crystal Red Shrimp Grading Guide. This version was created in order to help hobbyists better understand the grades and their respective terminologies that are associated. As more information develops on this ever changing Crystal Red Shrimp species this page will be updated.
SSS Grade Crystal Red Shrimp
The SSS Grade Crystal Red Shrimp has the most white coloration out of all of the grades below it. It is sometimes refered to as a "Mosura" grade Crystal Red Shrimp. It follows the typical rule in Crystal Red Shrimp Grading that the more white coloration the higher the grade. However, there are many features which can make one SSS grade specimen considered even higher grade than another SSS Grade. One SSS Grade can be higher than another dependent upon features including the different red patterns on the head, eye coloration, leg coloration and even antennae coloration. As the grading gets higher there are more factors which can make a single specimen more prized than another of the same grade. Please read about the grading terminologies located on the bottom of the page.
SSS Grade Mosura with "Flower"
SSS Grade Mosura with "Crown"
Additional SSS Grade Photos
SS Grade Crystal Red Shrimp
The SS Grade Crystal Red Shrimp has more red coloration than the SSS Grade. The additional red coloration is located on the mid portion of the body, typically on the top. The SS Grade is usually given when there is a "Hinomaru" which is a red circle on the back which in fact signifies the sun in the Japanese flag. There are different varitiations of the Hinomaru including a No-Entry Hinomaru which is a white line through the red circle, and a Double Hinomaru feature which occurs when there is a second red circle on the body typically right at the end of the back at the tail. In the various photos below you can see the different types of SS Grade Crystal Red Shrimp. Please read about the grading terminologies located on the bottom of the page.
SS Grade Hinomaru
S Grade Crystal Red Shrimp
The S Grade Crystal Red Shrimp has even more red coloration than the SS and SSS Grades. The additional red coloration is located more along the sides of the body versus the SS Grade which has red mostly on the top portion. The S Grade Crystal Red Shrimp is a more popular grade due to the lower price and also because it is considered to have a more even white/red coloration. Some do not prefer the majority white coloration that the SS and SSS grade provide, let alone the high price they can demand. The S Grade can also be ranked as S+ given certain characteristics like solid red and white coloration as well as special features including Tiger Tooth and V-Band. The grading of Crystal Red Shrimp from S+ grade and below is very dependent on color solidity. Nice fully opaque white and red coloration can make the difference between an A Grade and S Grade. It is very important to inspect each specimen thoroughly. Please read about the grading terminologies located on the bottom of the page.
S+ Grade Tiger Tooth
S+ Grade V- Band
S Grade 3 White Band
A Grade Crystal Red Shrimp
The A Grade Crystal Red Shrimp is a more popular grade for beginners in the Crystal Red Shrimp breeding arena. The A Grade has characteristics of blotchy and transparent red coloration and poor solid white coloration as well. A lack of any special features/patterns is typical of an A Grade specimen. The distribution of the red and white coloration can differ where some can have three white bands and some can have four white bands. The A Grade is a great beginner grade and are very inexpensive compared to higher grades. As stated before, it is important that you inspect each specimen well because an A grade can be improperly labeled as an S grade if not careful.
A Grade 3 White Bandsz
A Grade 3 White Bandsz
B Grade Crystal Red Shrimp
The B Grade Crystal Red Shrimp is typical of poor distribution of red and white coloration with an almost complete lack of any fully white bands. Some would say it is an ugly grade but I suppose it is in the eye of the beholder. This is another great beginner shrimp and also a great shrimp for breeders who are interested in practicing selective breeding. The irony is that it can sometimes be hard to find low grade Crystal Red Shrimp like the B Grade since not many people are fans of its pattern/coloration.
C Grade Crystal Red Shrimp
The C Grade Crystal Red Shrimp is typically where it all started. The very first Crystal Red Shrimp looked closely like this. Over time the white coloration was bred out and became more prevalent than the red coloration. You can see how the red coloration is almost 100% with very little white except for a coulple of strips. This is almost exactly what the red colored variety that Hisayasu Suzuki first discovered in his batch of wild Bee Shrimp looked like. Very little recognition is given to this grade given the fact that it is the origin of the mainstream Crystal Red Shrimp. There have been attempts to breed the red 100% with no white but lately it has not been as popular to do so.
Grading Terminology & Features
Mosura "Flower": A Flower-like pattern on the side of the head of a SSS Grade Mosura. Exactly where the "flower" term originated from is unknown as it does not seem to resemble a flower too much. Found in SSS Grade Crystal Red Shrimp.
Mosura "Crown": A half-circle Crown-like appearance located around the top and sides of the head. Found in SSS Grade Crystal Red Shrimp.
Double Hinomaru: Instead of one circle there are two. A large circle in the back (with no-entry sign) and another small circle towards the tail. Found in SS Grade Crystal Red Shrimp.
No-Entry Hinomaru: Occurs when a white dash appears in the middle of the red Hinomaru circle. The white dash gives the appearance of a No-Entry sign commonly found in traffic signs. The white dash can go all the way through the sides of the circle or can be contained inside as well. Found in SS Grade Crystal Red Shrimp.
Hinomaru: Hinomaru is when there is a distinct Red Circle in the middle section of the Crystal Red Shrimp top back portion. Hinomaru means "sun disc" in Japanese and is symbolic of the red circle which symbolizes the Sun in the Japanese Flag. There are also different variations of Hinomaru as stated above, i.e. Double Hinomaru and No-Entry Hinomaru. Found in SS Grade Crystal Red Shrimp.
Tiger Tooth: The Tiger Tooth marking
is located on the lower half of the middle red section of an S+ Grade
specimen. There are two red downward dashes. In between those two
dashes is a white "Tiger Tooth". There must be a white portion between
the two red dashes in order for the Crystal Red Shrimp to be considered
to have a Tiger Tooth. If the area between the dashes is clear then it
is not considered Tiger Tooth. The lack of a second red band would in
fact create a V-Band instead. Found in S+ Grade Crystal Red Shrimp.
V-Band: The middle red section is shaped as a pseudo "v" shape signifies V-Band. Found in S+ Grade Crystal Red Shrimp.
Crystal Red Shrimp QUICK Grading Guide
Crystal Red Shrimp QUICK Features Guide
sumber : www.planetinverts.com
Rabu, 19 September 2012
Aklimasi Udang Baru
Penting!
Jangan meletakkan plastik yang berisi udang kedalam aquarium dengan dalih menyamakan suhu air aquarium dengan suhu air di dalam plastik. Cara ini adalah cara yang Anda lakukan jika Anda pergi ke toko ikan lokal dan membeli ikan. Plastik yang berisi udang yang dikirim adalah dalam "breathing bag" (plastik khusus yang tidak memerlukan udara didalamnya). Breathing bag benar-benar "bernafas" , oksigen memungkinkan untuk masuk dan mengeluarkan CO2.
Aklimasi Udang sebelum memasukkannya ke dalam aquarium Anda :
Hal ini penting untuk menyesuaikan diri udang Anda ketika menempatkan mereka ke rumah baru. Udang sangat sensitif terhadap kondisi air. Anda tidak dapat segera menuangkan udang dari plastik ke dalam aquarium baru. Setelah
beberapa langkah, Anda dapat memastikan bahwa udang Anda akan menyesuaikan
diri dengan baik dengan rumah baru mereka dengan perlahan-lahan, aklimasikan mereka dengan kondisi air yang baru.
Alat yang dibutuhkan
Semua alat-alat harus bersih dan benar-benar steril sama sekali.!
(1) Mangkuk Tupperware kecil (atau mangkuk sejenis yang transparan)
(2) Plastik Cup (untuk mengumpulkan air tank baru)
(3) Plastik Sendok (atau serupa)
Mengeluarkan seluruh udang dari plastik:
Hal ini bisa saja sulit untuk mengeluarkan seluruh udang dari breathing bag. Breathing bag tidak cukup lebar untuk menempatkan jaring dan menyendoknya. Jika Anda mencoba untuk menuangkan air keluar dari plastik ke
dalam wadah, Anda akan memperoleh risiko menempatkan udang Anda terjebak dalam plastik dan sulit untuk mengeluarkan mereka ketika hal ini terjadi. Saya telah mencoba berbagai metode untuk mengeluarkan udang dari breathing bag dan ini adalah metode yang jauh lebih baik. Saya melakukan hal ini setiap kali saya menerima udang baru dan menganggapnya sebagai satu-satunya cara untuk melakukannya.
(1) Hati-hati membuka kotak. Gunakan pisau atau gunting untuk memotong pita di bagian atas dan membuka kotak. Lepaskan isolasi atas dan kertas. Anda kemudian akan melihat kantong udang.
(2)
Setelah mengeluarkannya, Anda akan melihat udang di dalamnya berenang
di sekitar franticly (mereka tidak melihat cahaya dalam beberapa hari). Ada juga tanaman air/moss di sana. Taruh plastik yang belum dibuka dalam mangkuk tupperware.
(3)
Ambil gunting dan mulai di bagian atas plastik, memotong sisi plastik (bawah
simpul), yang memungkinkan air untuk menuangkan ke dalam mangkuk dan
menjaga tas di dalam air pada saat yang sama dengan menuangkan keluar. Hal ini memungkinkan udang yang akan terendam dalam air sepanjang waktu tanpa harus membuat udangnya terkejut.
(4) Menjaga plastik tetap terendam dalam mangkuk, memotong bagian atas plastik (bawah simpul). Hal ini akan memungkinkan plastik untuk sepenuhnya membuka dan secara langsung ke dalam air. Udang juga akan berenang langsung ke dalam mangkuk pada waktu yang bersamaan. Sekarang,
dengan menggunakan sendok plastik yang bersih (atau serupa)
(5) Keluarkan plastik ketika Anda yakin bahwa tidak ada udang di dalamnya. Semua udang harus berenang keluar dari kantong ke dalam mangkuk baik dengan mereka sendiri yang keluar atau dengan bantuan Anda. Sekarang Anda harus memiliki mangkuk plastik dengan air kemasan, lumut, dan udang. Bagian yang sulit berakhir: Mendapatkan mereka keluar dari tas dan ke dalam mangkuk!
Aklimasi dengan air aquarium:
(1) Tarulah udang anda didalam wadah dan kemudian mulai dengan perlahan masukkan air dari aquarium anda dengan perlahan (ada baiknya anda menggunakan selang) sehingga air masuk setetes demi setetes sehihngga air aquarium memenuhi wadah tersebut
(2) Setelah air aquarium telah memenuhi wadah tersebut (akan menghabiskan waktu 40-45menit) sudah saatnya udang dipindahkan dengan menggunakan sendok. Ingat! lakukan dengan sangat hati-hati
Menempatkan udang ke rumah baru mereka: Saya sarankan mengambil jaring kecil dan menyendoki udang keluar dari mangkuk dan menempatkan mereka dalam aquarium. Saya tidak menyarankan membuang air dalam mangkok kedalam aquarium.
Jangan terburu-buru untuk memberi makan udang anda. Biarkan mereka terbiasa dengan lingkungan baru mereka.Terkadang saya tidak memberi mereka makan selama 24jam pertama sampai saya melihat mereka mengais seluruh aquarium
Langganan:
Komentar (Atom)